Minggu, 05 September 2010

Kisah al-Qadhi Syuraih dengan istrinya





Kisah Al-Qadhi Syuraih dengan Istrinya
 
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Al-Qadhi Syuraih datang kepada Al-Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah. Asy-Sya’bi menanyakan keadaan rumah tangganya, Syuraih pun menjawab, “Selama dua puluh tahun aku belum pernah melihat istriku berbuat sesuatu yang membuatku marah.” Asy-Sya’bi Rahimahullah penasaran dengan bertanya lagi, “Bagaimana bisa demikian?” Syuraih menjawab,”Sejak malam pertama aku masuk menemui istriku, aku melihat kemolekan yang menggiurkan dan kecantikan tiada tanding. Maka aku katakan pada diriku sendiri, aku akan bersuci dan shalat dua raka’at sebagai rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika aku salam, aku dapati istriku ikut shalat bersamaku dan mengucapkan salam bersama dengan salamku. Setelah rumah sepi dari tamu dan kawan, aku berdiri menghampirinya dan kuulurkan tanganku kepadanya. Ia pun mengatakan, “Sabarlah wahai Abu Umamah, tetaplah dalam posisimu.” Lantas ia mengatakan, “Alhamdulillah, aku memuji-Nya, meminta tolong kepada-Nya. Dan aku bershalawat kepada Muhammad dan keluarganya.
 
Sesungguhnya aku ini adalah perempuan asing bagimu. Dan aku tidak mengetahui akhlakmu. Jelaskanlah kepadaku apa yang engkau sukai maka aku akan kerjakan dan apa yang tidak engkau sukai akan aku tinggalkan. Sesungguhnya di lingkunganmu banyak wanita-wanita yang bisa engkau nikahi dan juga di lingkunganku banyak lelaki yang sekufu’ (sepadan) denganku. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkan perkara ini dan pasti itu terjadi. Anda telah memilikiku maka berbuatlah apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, pegang dengan baik atau lepaskan dengan baik pula. Aku telah katakan, dan dalam hal ini aku mohon ampunan untuk diriku dan dirimu juga.
 
Syuraih mengatakan, “Demi Allah wahai Sya’bi, dia sangat membutuhkan sepatah kata dariku dengan tema yang seperti itu pula. Maka aku berkata, “Alhamdulillah, aku memuji-Nya, meminta tolong kepada-Nya. Dan aku bershalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Setelah itu, Sesungguhnya engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang jika engkau konsisten dengan kalimat tersebut maka berarti engkau akan mendapat bagianmu. Jika engkau meninggalkannya maka hal itu menjadi bumerang bagimu. Aku suka ini dan itu, aku benci ini dan itu. Kebaikan yang engkau lihat maka sebarkanlah dan kejelekan yang engkau lihat maka tutupilah.” Ia berkata, “Apakah engkau senang terhadap kunjungan keluargaku?” Aku menjawab, ”Aku tidak suka keluargamu terlalu sering berkunjung yang membuatku bosan.” Ia mengatakan, “Siapakah tetangga yang engkau bolehkan untuk masuk rumahmu maka aku akan izinkan untuk masuk dan siapakah yang tidak engkau sukai?” Aku menjawab, “Bani Fulan adalah kaum yang shalih dan Bani Fulan lainnya adalah kaum yang jahat.”
 
Syuraih berkata, ”Lalu aku melalui malam tersebut sebagai malam paling nikmat. Setelah satu tahun berlalu aku hidup bersamanya, aku tidak pernah melihat hal yang tidak aku sukai. Pada suatu hari, aku baru pulang dari majlis qadha (pengadilan). Tiba-tiba aku jumpai ada ibu mertuaku di rumah. Ia bertanya kepadaku, “Bagaimana engkau memandang istrimu?” Aku menjawab, “Dia wanita yang paling baik.” Ia mengatakan, “Demi Allah, tidaklah seseorang memelihara di rumahnya sesuatu yang lebih jahat dari pada perempuan yang manja. Maka didiklah semaumu dan berilah pelajaran sekehendakmu.”
 
Lantas setelah keluarga ini berlangsung lama, Syuraih menuturkan, “Aku tinggal bersamanya selama dua puluh tahun dan aku tidak pernah memberinya hukuman kecuali satu kali. Itupun karena aku yang zalim kepadanya.”
Read More...

Senin, 09 Agustus 2010

Introspeksi Diri di Bulan Suci Ramadhan













Shahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.”



Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya kitab Ash-Shaum, bab Hal Yuqalu Ramadhan au Syahru Ramadhan no. 1898, 1899. Dikeluarkan pula dalam kitab Bad‘ul Khalqi, bab Shifatu Iblis wa Junuduhu no. 3277. Adapun Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya membawakannya dalam kitab Ash-Shaum, dan diberikan judul babnya oleh Al-Imam An-Nawawi, Fadhlu Syahri Ramadhan no. 2492.



Pintu Kebaikan Terbuka, Pintu Kejelekan Tertutup

Kedatangan Ramadhan akan disambut dengan penuh kegembiraan oleh insan beriman yang selalu merindukan kehadirannya dan menghitung-hitung hari kedatangannya. Banyak keutamaan yang dijanjikan untuk diraih dan didapatkan di bulan mulia ini, di antaranya seperti tersebut dalam hadits yang menjadi pembahasan kita dalam rubrik ‘Hadits’ kali ini. Dan keutamaan yang tersebut dalam hadits di atas didapatkan sejak awal malam Ramadhan yang mubarak sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ. وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَ ذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1682, dihasankan Asy-Syaikh Albani rahimahullahu dalam Al-Misykat no. 1960)



Pada bulan yang penuh barakah ini, kejahatan di muka bumi lebih sedikit, karena jin-jin yang jahat dibelenggu dan diikat, sehingga mereka tidak bebas untuk menyebarkan kerusakan di tengah manusia sebagaimana hal ini dapat mereka lakukan di luar bulan Ramadhan. Di hari-hari itu kaum muslimin tersibukkan dengan ibadah puasa yang dengannya akan mematahkan syahwat. Juga mereka tersibukkan dengan membaca Al-Qur`an dan ibadah-ibadah lainnya. (Al-Mirqah, Asy-Syaikh Mulla ‘Ali Al-Qari pada ta’liq Al-Misykat 1/783, hadits no. 1961)



Ibadah-ibadah ini akan melatih jiwa, membersihkan dan mensucikannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Karena amal shalih banyak dilakukan, demikian pula ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah, ditutuplah pintu-pintu jahannam dan dibuka pintu-pintu surga. (Shifatu Shaumin Nabiyyi n fi Ramadhan, hal. 18-19)

Makna ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits di atas صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ adalah setan itu dibelenggu. Dan yang dimaksudkan dengan setan di sini adalah مَرَدَةُ الْجِنِّ sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Kata مَرَدَةٌ adalah bentuk jamak (lebih dari dua) dari kata الْمَارِدُ yaitu الْعَاتِي الشَّدِيْدُ , maknanya yang sangat angkuh, durhaka, bertindak sewenang-wenang lagi melampaui batas (lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits). Sehingga yang dibelenggu hanyalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat, adapun setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran.



Kita perlu nyatakan hal ini, kata Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullahu, agar jangan sampai engkau mengatakan: “Kami mendapatkan beberapa perselisihan dan fitnah di bulan Ramadhan (lalu bagaimana dikatakan setan-setan itu dibelenggu sementara kejahatan tetap ada? -pent.).” Kita jawab bahwa yang dibelenggu adalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat. Sedangkan setan-setan yang kecil dan setan-setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran tidak dibelenggu. Demikian pula jiwa yang memerintahkan kepada kejelekan, teman-teman duduk yang jelek dan tabiat yang memang senang dengan fitnah dan pertikaian. Semua ini tetap ada di tengah manusia, tidak terbelenggu kecuali jin-jin yang sangat jahat. (Ijabatus Sa`il ‘ala Ahammil Masa`il, hal. 163)



Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullahu berkata dalam Shahih-nya (3/188): “Bab penyebutan keterangan bahwa hanyalah yang diinginkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ hanyalah jin-jin yang jahat, bukan semua setan. Karena nama setan terkadang diberikan kepada sebagian mereka (tidak dimaukan seluruhnya).”



Di bulan yang mubarak ini ada malaikat yang menyeru kepada kebaikan dan menyeru untuk mengurangi kejelekan sebagaimana dalam lafadz hadits:

وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ

“Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.”



Hadits-hadits tentang Keutamaan Ramadhan

Selain hadits di atas, banyak lagi hadits lain yang berbicara tentang keutamaan Ramadhan. Di antaranya akan kita sebutkan berikut ini:

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 1778)

2. Dari ‘Imran bin Murrah Al-Juhani radhiallahu 'anhu, ia berkata: Seseorang datang menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله، وَأَنَّكَ رَسُوْلَ اللهِ، وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ، وَأَدَّيْتُ الزَّكاةَ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، فَمِمَّنْ أَنَا؟ قَالَ: مِنَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ

“Wahai Rasulullah, apa pendapat anda bila aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, aku mengerjakan shalat lima waktu, menunaikan zakat dan puasa di bulan Ramadhan, maka termasuk dalam golongan manakah aku?” Rasulullah menjawab: “Engkau termasuk golongan shiddiqin dan syuhada.” (HR. Al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya, dan lafadz yang disebutkan adalah lafadz Ibnu Hibban. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 989)

3. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ، لِلَّهِ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang pada kalian Ramadhan bulan yang diberkahi. Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan atas kalian untuk puasa di bulan ini. Pada bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu setan-setan yang sangat jahat. Pada bulan ini Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang diharamkan untuk mendapatkan kebaikan malam itu maka sungguh ia telah diharamkan.” (HR. Ahmad, 2/385, An-Nasa`i no. 2106, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa`i. Lihat Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 985, Al-Misykat no. 1962)

4. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةَ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, apabila dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 549)



Cukuplah kiranya keutamaan bagi Ramadhan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala memilihnya di antara bulan-bulan yang ada untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan kitab-Nya yang mulia di bulan berkah tersebut, di malam yang penuh kemuliaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتِ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang batil.” (Al-Baqarah: 185)



إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur`an itu pada malam Qadar (malam kemuliaan).” (Al-Qadar: 1)



Puasa Semestinya membuahkan Takwa

Hikmah disyariatkannya puasa dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullahu berkata: “Perkara takwa yang dikandung puasa di antaranya:

- Orang yang puasa meninggalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala haramkan kepadanya berupa makan, minum, jima’ dan semisalnya, sementara jiwa itu condong kepada perkara yang harus ditinggalkan tersebut. Semua itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengharapkan pahala-Nya. Ini termasuk takwa.

- Orang yang puasa melatih jiwanya untuk merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta'ala (muraqabatullah), maka ia meninggalkan apa yang diinginkan jiwanya padahal ia mampu melakukannya, karena ia mengetahui pengawasan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadapnya.

- Puasa itu menyempitkan jalan setan, karena setan itu berjalan pada anak Adam seperti peredaran/aliran darah. Dan puasa akan melemahkan jalannya sehingga mengecilkan perbuatan maksiat.

- Orang yang puasa umumnya memperbanyak amalan ketaatan sementara amalan ketaatan termasuk perangai takwa.

- Orang yang kaya jika merasakan tidak enaknya lapar maka mestinya ia akan memberikan kelapangan/memberi derma kepada orang-orang fakir yang tidak berpunya. Ini pun termasuk perangai takwa. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 86)



Dengan demikian sungguh tidaklah berlebihan bila kita katakan bahwa seharusnya momentum Ramadhan dijadikan langkah awal untuk memperbaiki iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, untuk kemudian iman dan takwa itu terus dipupuk dan dirawat di bulan-bulan selanjutnya. Dan jangan dibiarkan terpisah dari jiwa dan raga hingga datang jemputan dari utusan Ar-Rahman (malaikat maut). Khususnya kita –penduduk negeri ini– seharusnya berkaca diri berkaitan dengan segala petaka yang menimpa negeri kita, demikian pula musibah yang datang terus menerus, lagi susul menyusul. Tidaklah semua ini menimpa kita kecuali karena dosa-dosa kita dan jauhnya kita dari iman serta takwa kepada Al-Khaliq.



ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan/ulah manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Rum: 41)



وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيْرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (Asy-Syura: 30)

Musibah yang menimpa negeri ini berupa gempa, tsunami, meletusnya gunung berapi, tanah longsor, semburan lumpur panas, dan sebagainya bukanlah karena kesialan penguasa/pemerintah sebagaimana tuduhan orang-orang dungu atau pura-pura dungu. Namun justru karena dosa-dosa yang ada di negeri ini. Terlepas apakah bencana ini karena rekayasa asing yang ingin menjatuhkan dan menghancurkan negeri ini sebagaimana analisa sebagian orang, atau murni musibah tanpa rekayasa, toh semuanya ditimpakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai teguran bagi kita agar kembali kepada-Nya. Bangkit dari lumpur hitam dosa dan maksiat, untuk kemudian bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya.



Yang sangat disesalkan, di antara penduduk negeri ini banyak yang tidak sadar dari maksiat mereka dengan musibah yang menimpa. Mereka malah melakukan praktik-praktik kesyirikan, membuat sesajen penolak bala yang dipersembahkan kepada roh-roh penguasa laut, penguasa gunung, penguasa darat, dan sebagainya. Na’udzubillah min dzalik!!!



Sehubungan dengan momentum Ramadhan sebagai bulan untuk menambah iman dan takwa, serta terkait dengan banyaknya musibah yang menimpa negeri ini, bagus sekali untuk kita nukilkan nasihat dari Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkenaan dengan musibah yang menimpa anak Adam, khususnya gempa bumi [1]. Mudah-mudahan nasehat ini bisa menjadi renungan bagi anak negeri ini.



Beliau rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Memiliki hikmah Maha Mengetahui terhadap apa yang Dia putuskan dan tetapkan, sebagaimana Dia Maha Memiliki Hikmah lagi Maha Mengetahui dalam apa yang Dia syariatkan dan perintahkan. Dia menciptakan apa yang diinginkan-Nya berupa tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia tetapkan hal itu untuk menakut-nakuti hamba-Nya dan mengingatkan mereka tentang hak-Nya dan memperingatkan mereka dari kesyirikan, penyelisihan terhadap perintah-Nya dan melakukan larangan-Nya.”

Selanjutnya beliau menyatakan: “Tidaklah diragukan bahwa gempa yang terjadi pada hari-hari ini di banyak tempat/negeri merupakan sejumlah tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta'ala hendak menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Seluruh musibah gempa yang terjadi dan perkara lainnya yang membuat kemudharatan para hamba dan menyebabkan gangguan bagi mereka, adalah disebabkan kesyirikan dan maksiat.”

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Tidaklah satu kebaikan menimpamu melainkan itu dari Allah dan tidaklah satu kejelekan menimpamu melainkan karena ulah dirimu sendiri.” (An-Nisa`: 79)



Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata: “Yang wajib dilakukan oleh seluruh muslimin adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, istiqamah di atas agamanya dan berhati-hati dari seluruh perkara yang dilarang berupa syirik dan maksiat. Sehingga mereka memperoleh pengampunan, kelapangan, keselamatan di dunia dan di akhirat dari seluruh kejelekan, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menolak dari mereka seluruh musibah, lalu menganugerahkan kepada mereka setiap kebaikan. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُوْنَ

“Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami bukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka malah mendustakan maka Kami pun menyiksa mereka disebabkan apa yang dulunya mereka upayakan.” (Al-A’raf: 96)

Kemudian Syaikh menukilkan ucapan Al-’Allamah Ibnul Qayyim rahimahullahu: “Di sebagian waktu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengizinkan bumi untuk bernapas panjang. Ketika itu terjadilah gempa/goncangan yang besar, sehingga menimbulkan ketakutan pada hamba-hamba-Nya, lalu mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mencabut diri dari maksiat, tunduk patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menyesali diri, sebagaimana ucapan sebagian salaf ketika terjadi gempa bumi: ‘Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian.’ Ketika terjadi gempa di kota Madinah, ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu 'anhu berkhutbah dan memberi nasehat kepada penduduk Madinah dan beliau berkata: ‘Kalau gempa ini terjadi lagi, aku tidak akan tinggal bersama kalian di Madinah ini.’

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menasehatkan: “Ketika terjadi gempa bumi dan tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala lainnya, gerhana, angin kencang dan banjir, yang wajib dilakukan adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tunduk menghinakan diri kepada-Nya dan memohon maaf/kelapangan-Nya serta memperbanyak mengingat-Nya dan istighfar pada-Nya. Sebagaimana ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Apabila kalian melihat gerhana maka berlindunglah kalian dengan zikir/mengingat Allah, berdoa kepada-Nya dan istighfar.”



Disenangi pula untuk memberikan kasih sayang kepada fakir miskin dan bersedekah kepada mereka dengan dalil sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمنُ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِي اْلأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang menyayangi (memiliki sifat rahmah) akan dirahmati oleh Ar-Rahman. Sayangilah orang yang ada di bumi niscaya Yang di langit akan merahmati kalian.” [2]



مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

“Siapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi/dirahmati.” [3]

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu bahwa beliau mengirim surat kepada gubernur-gubernurnya ketika terjadi gempa agar mereka bersedekah.



Termasuk sebab kelapangan dan keselamatan dari semua kejelekan adalah agar pemerintah bersegera mengambil tangan rakyatnya dan mengharuskan mereka untuk berpegang dengan kebenaran dan menjalankan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala pada mereka serta amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ

“Kaum mukminin dan mukminat sebagian mereka adalah wali/kekasih bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat dan mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan dirahmati Allah.” (At-Taubah: 71)



Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى معْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ. وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

“Siapa yang melepaskan seorang mukmin dari satu bencana/kesulitan dunia niscaya Allah akan melepaskannya dari satu bencana di hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan bagi orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutup kejelekan/cacat seorang muslim, Allah pun akan menutup cacatnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” [4]



Demikian nasehat dari Asy-Syaikh Ibnu Baz –semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas dan melapangkan beliau di kuburnya, amin–. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati penduduk negeri ini dan menghilangkan musibah dari mereka serta memberi taufik kepada mereka agar bertaubat dan kembali kepada agama-Nya yang benar. Semoga penduduk negeri ini mengambil pelajaran yang berharga di bulan mubarak ini, bulan Ramadhan nan penuh keberkahan, menambah iman dan takwa mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala hingga mereka menjadi , orang-orang yang dibebaskan dari api neraka. Allahumma amin.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.



Footnote :

1. Dinukil secara ringkas dari kitab Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 9/148-152.

2. HR. At-Tirmidzi no. 1924, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 922

3. HR. Al-Bukhari no. 7376

4. HR. Muslim no. 6793 Read More...

Minggu, 04 Juli 2010

Bersatulah di Jalan yang Diridhai Allah, Jangan Berpecah Belah...







Ibnu Mas’ud radhiyallahu'anhu berkata:




خَطَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا. قَالَ: ثُمَّ خَطَّ عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ السُّبُلُ وَلَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهَا شَيْطاَنٌ يَدْعُو إِلَيْهِ. ثُمَّ قَرَأَ: {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ}




Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam menggaris satu garis dengan tangannya, kemudian bersabda: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Setelahnya beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya, kemudian beliau bersabda: “Ini adalah jalan-jalan. Tidak ada satu jalan pun dari jalan-jalan ini melainkan di atasnya ada setan yang mengajak kepadanya.” Beliau lalu membaca ayat: “Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan ini dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”1
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnad-nya (1/465 dan 1/435) dan Ad-Darimi t dalam Sunan-nya (no. 204). Dihasankan oleh guru kami Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain (2/20-21). 




Perpecahan adalah Perkara Kauniyyah


Allah subhaanahu wa ta'ala adalah Pencipta segala sesuatu, sehingga tidak ada satu perkara pun di alam semesta ini kecuali ciptaan-Nya.






اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ






“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.” (Ar-Ra’du: 16)
Demikian pula Allah subhaanahu wa ta'ala penentu segala sesuatu dengan kemahaadilan-Nya dan Dia berbuat dengan penuh hikmah(bijaksana) tanpa ada yang sia-sia dalam perbuatan-Nya. Dengan kemahaadilan-Nya dan hikmah-Nya, Dia menentukan apa yang dikehendaki-Nya. Dia tidak ditanya dan tidak dituntut terhadap apa yang diperbuat-Nya. Sebaliknya hamba-hamba-Nya yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang mereka lakukan.






لاَ يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُوْنَ






“Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya namun merekalah yang ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang perbuatan mereka.” (Al-Anbiya`: 23)
Di antara perkara yang Allah subhaanahu wa ta'ala tetapkan dan ciptakan adalah apa yang disebutkan dan diisyaratkan dalam hadits di atas, bahwa Allah subhaanahu wa ta'ala menginginkan adanya banyak jalan yang akan ditempuh oleh hamba-hamba-Nya yang di atas jalan-jalan tersebut ada setan yang menyeru kepada kebinasaan perpecahan. Juga dari semua jalan yang ada, tidak ada yang selamat terkecuali hanya satu jalan yaitu jalan Allah subhaanahu wa ta'ala. Banyaknya jalan yang menggambarkan tentang perpecahan umat ini adalah kehendak Allah subhaanahu wa ta'ala yang dinamakan kehendak kauni-Nya (yang mesti terjadi). 
Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta'ala juga menyebutkan tentang kemestian terjadinya perpecahan ini dalam firman-Nya:






وَلَوْ شآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ






“Seandainya Rabbmu menginginkan niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu namun mereka terus menerus berselisih kecuali orang yang dirahmahi oleh Rabbmu dan karena itulah Allah menciptakan mereka.” (Hud: 118-119) 
Dalam ayat di atas Allah subhaanahu wa ta'ala mengabarkan bahwa mereka (manusia) akan terus menerus berselisih selama-lamanya dan bahwa Dia subhaanahu wa ta'ala memang menciptakan mereka untuk berselisih. Demikian pendapat jamaah mufassirin (sejumlah ahli tafsir) tentang ayat ini. Adapun makna ayat:






وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ






yakni mereka diciptakan untuk ikhtilaf (berselisih). (Mukhtashar Kitab Al-I’tisham hal. 116)
Masalah perpecahan umat ini juga dinyatakan dan digambarkan dengan hadits-hadits lainnya, di antaranya:
 Hadits Al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu'anhu, di mana beliau berkata: “Suatu hari setelah shalat Subuh, Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam  menasehati kami dengan satu nasehat yang begitu mendalam, hingga air mata kami pun mengalir dan hati-hati pun bergetar. Berkatalah seseorang: “Sungguh nasehat ini adalah nasehat orang yang mau berpisah. Lalu apa yang engkau pesankan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu'alaihi wa sallam  bersabda:






أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ، يَرَ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّها ضَلاَلَةٌ، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْه بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ






“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah subhaanahu wa ta'ala, untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) walaupun yang memimpin kalian itu seorang budak Habasyi (Ethopia). Karena sesungguhnya siapa di antara kalian yang nantinya masih hidup, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Dan hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan (dalam agama, pen.) karena perkara tersebut sesat. Siapa di antara kalian yang mendapatkan keadaan tersebut maka wajib atasnya berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang terbimbing dan mendapatkan petunjuk. Gigitlah Sunnah itu dengan gigi geraham kalian (pegang erat-erat jangan sampai lepas, pen.).” (HR. At-Tirmidzi no. 2816 dan selainnya. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/2157) 
 Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam :






اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً






“Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, Nasrani terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan.” (HR. Abu Dawud no. 3980, At-Tirmidzi no. 2778 dan selain keduanya. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 203, 204) 
Adapun di antara hikmah yang bisa kita petik dari ketetapan Allah subhaanahu wa ta'ala atas perpecahan-perpecahan ini, dikatakan oleh Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah: “Ketahuilah, semoga Allah merahmati kita semuanya. Allah k telah mengajarkan kita dalam kitab-Nya bahwa ikhtilaf (perpecahan) itu mesti terjadi di antara makhluk-Nya, agar Dia menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya dan Dia memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya. Allah k menjadikan hal itu sebagai nasehat yang bisa dijadikan peringatan oleh kaum mukminin sehingga mereka berhati-hati dan menghindari perpecahan serta berpegang teguh dengan Al-Jamaah, juga supaya mereka meninggalkan debat kusir dan pertikaian dalam agama ini dan semata-mata ittiba’ dan tidak mengada-adakan bid’ah.” (Asy-Syari’ah, hal. 9)
Diriwayatkan dari Al-Imam Malik bin Anas dan Al-Hasan mereka berkata: “Allah menciptakan mereka berselisih agar sebagian mereka di tempatkan di jannah (surga) dan sebagian lain di neraka sa’ir.” (Tafsir Al Qur`anil ‘Azhim 4/252, Mukhtashar Kitab Al-I’tisham hal. 16)




Perselisihan Bukanlah Rahmah


Bila kita membaca dalil-dalil Al Qur`an, As Sunnah dan melihat ucapan para shahabat dan para imam dalam agama ini, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa perselisihan itu syarr (jelek). Di mana Allah k berfirman:






وَلاَ يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ. إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ






“Mereka terus menerus berselisih. Kecuali orang yang dirahmahi oleh Rabbmu.” (Hud: 118-119)
Ibnul ‘Arabi dalam Ahkamul Qur`an (3/33) menukilkan ucapan ‘Umar bin Abdul ‘Aziz t, beliau berkata: “Allah menciptakan orang-orang yang dirahmati-Nya agar mereka tidak berselisih.” 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Allah subhaanahu wa ta'ala berfirman:






وَلاَ يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ. إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ






(“Mereka terus menerus berselisih kecuali orang yang dirahmahi oleh Rabbmu.”) (Dalam ayat ini) Allah mengabarkan bahwa ahlur rahmah (orang-orang yang dirahmati-Nya) tidaklah berselisih. Mereka ini adalah pengikut para Nabi, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Mereka adalah Ahlul Qur`an dan Ahlul Hadits dari kalangan umat ini. Maka siapa yang menyelisihi mereka dalam satu perkara, luputlah darinya rahmat sesuai dengan kadar penyelisihannya terhadap perkara tersebut.” (Majmu’ Al-Fatawa, 4/25)
Allah subhaanahu wa ta'ala berfirman:






وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ






“Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang besar.” (Ali ‘Imran: 105)
Al-Muzani rahimahullah berkata: “Allah mencela perselisihan dan memerintahkan ketika terjadi perselisihan untuk kembali kepada Al Qur`an dan As Sunnah. Seandainya perselisihan itu merupakan bagian dari agama-Nya niscaya Dia tidak akan mencelanya. Seandainya pertikaian itu merupakan bagian dari hukum-Nya, niscaya Dia tidak akan memerintahkan mereka untuk kembali kepada Al Qur`an dan As Sunnah ketika terjadi pertikaian tersebut.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 2/910)
Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah menyatakan: “Kami memandang bahwa jamaah adalah haq dan kebenaran, sementara perpecahan adalah penyimpangan dan azab.” (Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, hal. 26-27)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya jamaah itu rahmat sedangkan perpecahan itu azab.” (Majmu’ Al-Fatawa, 3/421)
Adapun hadits yang didengung-dengungkan oleh orang-orang yang menyeru kepada banyak jamaah dan banyak jalan:






اخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ






“Perselisihan umatku adalah rahmat.”
Al-’Allamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t berkata dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah (1/141): “Hadits ini (tidak ada asalnya).” 
Ibnu Hazm t berkata: “Adapun hadits yang disebutkan ini adalah hadits yang batil, sebuah kedustaan yang dibuat-buat oleh orang fasiq.” (Ihkamul Ahkam, 5/61) 
Beliau juga menyatakan bahwa perkataan “Perselisihan umatku itu rahmah” adalah sejelek-jelek perkataan yang ada, karena sebagai konsekuensinya akan dinyatakan bahwa persatuan itu dimurkai dan dibenci. Dan tentunya yang seperti ini tidak ada seorang muslim pun yang mengatakannya, sehingga yang ada yaitu persatuan itu adalah rahmat dan perselisihan itu dimurkai dan dibenci. (Ihkamul Ahkam, 5/64)
Al-’Allamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “Ikhtilaf (perselisihan) itu dicela dalam syariat, maka wajib berusaha untuk menghindari perselisihan selama memungkinkan. Karena dengan sebab berselisih umat Islam menjadi lemah, sebagaimana Allah subhaanahu wa ta'ala berfirman:






وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ






“Dan janganlah kalian berselisih yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” (Al-Anfal: 46)
Adapun ridha dengan perpecahan dan menamakannya dengan rahmat berarti menyelisihi ayat-ayat mulia yang secara jelas mencela perpecahan tersebut. Dan tidak didapatkan sandaran dalil bagi perpecahan sama sekali, kecuali dengan hadits yang tidak ada asalnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ini.” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah, 1/143).
Akibat mengikuti banyak jalan, terjadilah perselisihan dan perpecahan. Dan karena adanya perpecahan ini terjadilah permusuhan dan kebencian di antara sesama muslim. Perkaranya bahkan sampai pada dihunuskannya pedang, dihalalkannya darah sesama kaum muslimin. Terjadilah perang saudara…! 
‘Amir bin Sa’d menceritakan dari ayahnya:






أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ ذَاتَ يَوْمٍ مِنَ الْعَالِيَةِ. حَتَّى إِذَا مَرَّ بِمَسْجِدِ بَنِي مُعَاوِيَةَ، دَخَلَ فَرَكَعَ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ، وَصَلَّيْنَا مَعَهُ. وَدَعَا رَبَّهُ طَوِيْلاً ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَيْنَا، فَقَال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَأَلْتُ رَبِّي ثَلاَثًا، فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً. سَأَلْتُ رَبِّي أَنْ لاَّ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيْهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَّ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيْهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَّ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيْهَا






“Bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam  suatu hari datang dari Al-’Aliyah. Hingga ketika beliau melewati masjid Bani Mu’awiyah, beliau masuk lalu shalat dua rakaat. Kami pun shalat bersama beliau. Beliau lama berdoa kepada Allah. Kemudian beliau berpaling menghadap kami. “Aku minta kepada Rabbku tiga perkara, maka Dia mengabulkan untukku dua perkara dan menolak mengabulkan satu perkara. Aku minta kepada Rabbku agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik (kemarau panjang), maka Dia pun mengabulkannya. Dan aku minta kepada-Nya agar Dia tidak membinasakan umatku dengan ditenggelamkan, maka Dia pun mengabulkannya. Dan aku minta padanya agar tidak menjadikan mereka (umatku) saling membinasakan sesama mereka, namun Dia menolak permintaanku ini.” (HR. Muslim no. 2890)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Hadits ini berisi pengabaran Nabi shallallahu'alaihi wa sallam  bahwa umat beliau sebagiannya akan membinasakan sebagian yang lain, dan sebagiannya akan menawan sebagian yang lain. Pengabaran beliau ini pun sudah terjadi.” (Al-Qaulul Mufid, 1/487). Wallahul musta’an wa ilaihil musytaka. 




Tidak Boleh Ridha terhadap Perselisihan dan Perpecahan


Telah kita ketahui bahwa perselisihan dan perpecahan merupakan perkara kauni, yang Allah kehendaki dengan iradah kauniyyah-Nya. Akan tetapi tidak boleh dipahami di sini bahwa kita harus menerima perselisihan dan membiarkan adanya perpecahan dengan alasan “Perkaranya adalah sunnatullah, bukankah Allah subhaanahu wa ta'ala sendiri menghendakinya?!”
Orang yang beranggapan demikian sungguh tampak kejahilannya. Ia tidak dapat membedakan antara kehendak kauni dan kehendak syar’i yang mesti terjadi. Di antara ketentuan tersebut, Allah subhaanahu wa ta'ala menetapkan dan menciptakan kejelekan dan perpecahan, namun bukan untuk kita kerjakan dan kita laksanakan. Karena Allah subhaanahu wa ta'ala jelas tidak meridhainya sebagaimana banyak diterangkan dalam nash, apa yang Allah subhaanahu wa ta'ala anjurkan dan perintahkan hamba-Nya untuk mengerjakan, yang masuk di dalam hal ini perintah dan anjuran berbuat kebaikan, juga untuk bersatu dan tidak berpecah sebagaimana yang diinginkan dengan kehendak dan ketetapan Allah k yang syar’i.
Abu Muhammad bin Hazm t menyatakan, Allah subhaanahu wa ta'ala menghendaki perselisihan ini dengan kehendak-Nya yang kauni (iradah kauniyyah) sebagaimana Dia menghendaki adanya kekafiran dan seluruh maksiat. (Ihkamul Ahkam, 5/65)
Allah k tidak ridha dengan perselisihan sehingga Dia jauhkan sifat ini dari Rasul-Nya shallallaahu'alaihi wa sallam sebagaimana firman-Nya:






إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوا دِيْنَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ






“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, engkau sedikitpun tidak termasuk dalam golongan mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah diserahkan kepada Allah, kemudian (di akhirat, pen.) Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka perbuat (ketika di dunia, pen.).” (Al-An’am: 159)
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Ayat ini merupakan pernyataan bara`ah (berlepas diri) dari orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan berhimpun di dalam golongan-golongan (yang membinasakan). Sementara yang diinginkan dari mereka agar agama itu satu dan manusia menjadi satu jamaah di atas agama ini. Inilah yang diperintahkan oleh Allah subhaanahu wa ta'ala. Oleh karena itu siapa yang keadaannya demikian (bersatu di atas agama, pen.) maka Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam berloyalitas kepadanya dan dia adalah kekasih Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam. Adapun orang yang memecah-belah agamanya dan dia tetap di atas perselisihan/pertikaian dan tetap berada di atas sifat jahiliyah maka Rasulullah berlepas diri darinya. (Syarhu Masa`ilil Jahiliyyah, hal. 41)
Allah subhaanahu wa ta'ala menetapkan adanya perselisihan dengan hikmah-Nya yang agung, hingga terpisahlah ahlul haq dari ahlul bathil, terpisahlah antara muttabi’ (orang yang mengikuti Sunnah Nabi, red.) dengan mubtadi’ (yang mengada-adakan bid’ah, red.). Dan tegaklah muttabi’ ini untuk berjihad menghadapi mubtadi’ dengan hujjah dan ilmu yang haq. 




Suka Berselisih Merupakan Sifat Ahlul Bid‘ah


Sebagaimana seorang muslim tidak boleh ridha kepada kekafiran dan kejelekan, maka sepantasnya pula ia pun tidak ridha dengan perselisihan. Apatah lagi ridha dengan perselisihan ini merupakan sifat ahlul bid’ah. Allah subhanahu wa Ta'ala berfirman:






إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوا دِيْنَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ






“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah diserahkan kepada Allah, kemudian (di akhirat, pen.) Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka perbuat (ketika di dunia, pen.).” (Al-An’am: 159)
Kata Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah: “Mereka adalah ahlul bid’ah dan ahlul ahwa`.” (Syarhus Sunnah, 1/210)
Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah menyatakan bahwa berpecah-belah termasuk ciri khas ahli bid’ah. (Al-I‘tisham, 1/113)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Bid’ah itu bergandengan dengan perpecahan sebagaimana As Sunnah itu bergandengan dengan jamaah, sehingga mereka dikatakan Ahlus Sunnah wal Jama’ah sedangkan ahlul bid’ah digelari pula sebagai ahlul furqah (perpecahan).” (Al-Istiqamah, 1/42)
Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah berkata ketika menyebutkan madzhab Ahlus Sunnah dalam ushuluddin (pokok-pokok agama): “Kita mengikuti As Sunnah dan Al-Jamaah, dan kita menjauhi syudzudz, perselisihan dan perpecahan.” (Ashlus Sunnah wa I’tiqadud Din, hal. 22) 


Bersatu dan Berjalan di atas Jalan Allah
Sekalipun banyak jalan selain jalan yang lurus (shirathal mustaqim), juga sekalipun perselisihan dan perpecahan –karena manusia mengikuti selain shirathal mustaqim– merupakan perkara kauni yang mesti terjadi karena Allah subhaanahu wa ta'ala telah menetapkan demikian, bukan berarti kita diperbolehkan untuk mengikuti jalan-jalan tersebut, dan bukan maknanya kita boleh berselisih dan berpecah dalam perkara yang sebenarnya tidak pantas kita berselisih apalagi berpecah belah.
Banyak sekali kita dapatkan nash yang mencela orang-orang yang mengikuti selain jalan Allah, dan yang mencela perselisihan serta perpecahan. Demikian juga kita dapatkan banyak sekali nash yang menekankan kepada kita untuk selalu berpegang dan mengikuti jalan Allah yang lurus, mengajak kita untuk selalu bersatu dan menghindari perselisihan dan perpecahan. Semua itu menunjukkan kepada kita bahwasanya wajib bagi kita untuk berjalan di atas jalan Allah, jalan yang dijalani oleh Rasul-Nya yang mulia Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan wajib bagi kita untuk bersatu di atas kebenaran karena tidak ada alasan bagi kita untuk menyelisihinya.
Allah subhaanahu wa ta'ala berfirman:






وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيْمٌا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ






“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan ini dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153)
Allah subhaanahu wa ta'ala menekankan kepada hamba-hamba-Nya untuk bersatu dan tidak bercerai berai:






وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا






“Berpeganglah kalian semuanya dengan tali Allah dan janganlah kalian berpecah belah. Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika kalian dahulu saling bermusuhan maka Allah mempersatukan di antara hati-hati kalian. Lalu dengan nikmat Allah jadilah kalian orang-orang yang bersaudara. Dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya.” (Ali ‘Imran: 103)






شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيْهِ






“Dia telah mensyariatkan bagi kalian agama ini sebagaimana yang diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah oleh kalian agama ini dan janganlah kalian berpecah belah di dalamnya…”6 (Asy-Syura: 13)






وَمَا تَفَرَّقُوا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ مَا جآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَلَوْلاَ كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ






“Dan mereka (ahlul kitab) tidak terpecah belah melainkan sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Kalau bukan karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan.” (Asy-Syura: 14)
Allah subhaanahu wa ta'ala melarang hamba-hamba-Nya dari mengikuti jalan orang yang berpecah belah dan berselisih:






وَلاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ






“Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang besar.” (Ali ‘Imran: 105)






فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ. مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُوْنُوا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوا دِيْنَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ






“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. (Tetaplah di atas) fitrah Allah yang Dia menciptakan manusia menurut fitrah tersebut. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 30-32)




إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ




“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, engkau sedikitpun tidak termasuk dalam golongan mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah diserahkan kepada Allah, kemudian (di akhirat, pen.) Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka perbuat (ketika di dunia, pen.).” (Al-An’am: 159)




وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ. فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ




“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabb kalian maka bertakwalah kalian kepada-Ku. Kemudian mereka (para pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa golongan. Masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (Al-Mukminun: 52-53)
Abul ‘Aliyah t memberikan nasehatnya: “Pelajarilah oleh kalian Islam. Bila kalian telah mempelajarinya maka janganlah kalian membencinya. Wajib atas kalian mengikuti jalan yang lurus (Ash-Shirathal Mustaqim) karena jalan yang lurus itu adalah Islam. Janganlah kalian menyimpang dari jalan yang lurus itu ke kanan dan jangan pula ke kiri. Wajib atas kalian berpegang dengan Sunnah Nabi kalian n dan apa yang para shahabat berada di atasnya. Karena sungguh kita telah membaca Al Qur`an selama 15 tahun sebelum mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Berhati-hatilah kalian dari hawa nafsu yang melemparkan permusuhan dan kebencian di antara manusia.”
‘Ashim Al-Ahwal berkata: “Aku sampaikan ucapan Abul ‘Aliyah ini kepada Al-Hasan, beliaupun berkata: “Dia benar dan telah memberikan nasehat.” 
Aku (‘Ashim) sampaikan pula ucapan Abul ‘Aliyah ini kepada Hafshah bintu Sirin, ia berkata: “Wahai anakku, apakah engkau telah sampaikan hal ini kepada Muhammad (bin Sirin, pen.)?” “Belum,” kataku. “Kalau begitu sampaikanlah padanya,” kata Hafshah. (Asy-Syari’ah, Al-Imam Al-Ajurri, hal. 16) 
Al-Imam Al-Ajurri t berkata: “Merupakan tanda seseorang yang Allah k menginginkan kebaikan padanya adalah ia menempuh jalan ini yaitu Kitabullah, Sunnah Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam , Sunnah para shahabat g dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan (tabi’in) rahmatullahi ‘alaihim. Dan juga apa yang dipegangi dan dijalani oleh para imam kaum muslimin di setiap negeri sampai ulama yang akhir, seperti Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal dan Al-Qasim bin Salam, serta orang yang berada di atas manhaj mereka serta menjauhi semua manhaj yang tidak dianut oleh para ulama tersebut.” (Asy-Syari’ah, hal. 16)
Semoga Allah k memberi hidayah taufik kepada kita untuk selalu berjalan di atas jalan-Nya yang lurus, dan menjaga kita dari penyimpangan, perselisihan dan perpecahan. Allahu al-muwaffiq ilaa sawa`is sabil. Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.
____________________________________________________________
1 Surat Al-An’am ayat 153
2 Dan seandainya Allah subhaanahu wa ta'alamenghendaki umat ini bersatu dan tidak terjadi perpecahan tentunya itu mudah bagi-Nya jalla sya`nuhu, sebagaimana dinyatakan-Nya dalam firman-Nya:






وَلَوْ شآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً






“Seandainya Rabbmu menginginkan niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu.” (Hud: 118)
3 Kehendak Allah k ada dua macam:
1. Kehendak takdir alam dan penciptaan, yaitu kehendak Allah k yang mencakup seluruh makhluk, termasuk terjadinya perpecahan atau persatuan.
2. Kehendak agama dan perintah syar’i, yaitu kehendak yang mengandung cinta dan ridha-Nya. Seperti persatuan dan ketaatan. 
Maka perpecahan itu hanya dengan kehendak Allah subhaanahu wa ta'ala yang pertama, adapun persatuan itu dengan kehendak Allah k yang pertama dan kedua. (Lihat Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 114; Fathul Majid hal. 27 cet. Ali Sinan untuk lebih rinci tentang perbedaan dua iradah (kehendak) Allah subhaanahu wa ta'ala. (ed)




4 Karena salah satu sifat orang-orang jahiliyah adalah mereka terpecah-belah dalam peribadatan dan agama mereka, demikian dikatakan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah dalam Masa‘ilul Jahiliyyah-nya.


5 Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata tentang tafsir ayat ini: “Allah k memerintahkan kalian untuk menegakkan seluruh syariat agama, ushul maupun furu’-nya. Untuk kalian tegakkan syariat itu pada diri-diri kalian dan kalian upayakan dengan sungguh-sungguh menegakkannya pada siapa saja selain kalian. Allah juga memerintahkan kalian untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 754) 
6 Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhahullah berkata: “Ada dua asas yang telah disepakati oleh syariat-syariat yang ada (syariat yang Allah telah berikan kepada para nabi, pen.) dan Allah perintahkan kepada seluruh rasul untuk menjalankan dua asas ini, mulai rasul yang awal Nuh 'alaihissalaam sampai rasul yang akhir Muhammad shallallaahu'alaihi wa sallam. Dua asas yang dimaksud adalah: Pertama, tauhidullah subhaanahu wa ta'ala yaitu mengesakan-Nya dalam ibadah dengan tidak mengibadahi selain-Nya. Kedua, bersemangat untuk mempersatukan umat dan tidak berpecah belah dalam agama, dengan menegakkan sebab-sebab persatuan dan meninggalkan sebab-sebab perselisihan. Karena itulah Allah k mencela perpecahan lebih dari satu ayat dalam kitab-Nya seperti firman-Nya: 






وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلاَّ مِنْ بَعْدِ مَا جآءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ






“Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.” (Al-Bayyinah: 4) (Al-Mauridul ‘Adzb Az-Zulal, hal. 84)
7 “Mereka melakukan apa yang mereka lakukan,” yang dimaksud di sini adalah fitnah Khawarij dan terbunuhnya ‘Utsman radhiyallahu 'anhu.



Lebih lengkap tentang ash-shiraathalmustaqim, silakan klik:

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=21
Read More...